banner 728x90

Sambut Musim Hujan, Ribuan Masyarakat Cirebon Ider-ideran Memayu Buyut Trusmi

Ribuan masyarakat Cirebon dan sekitarnya berbondong-bondong memadati tradisi Memayu Buyut Trusmi, atau lebih dikenal dengan Ider- ideran oleh masyarakat sekitar, Minggu (4/12/2022).

Memayu sendiri merupakan rangkaian acara budaya dalam rangka mengganti atap bangunan Buyut Trusmi yang dimaksudkan untuk menyambut musim hujan.

Sehari sebelum pelaksanaan, kaum laki- laki Desa Trusmi dan sekitarnya sudah melakukan latihan pacuan kuda di Terminal Weru.

Saat itu pula, masyarakat berbondong – bondong menyaksikannya. Pada saat itu pula, banyak masyarakat di wilayah Indramayu khususnya, berdatangan untuk mengikuti Memayu.

Pantauan di lapangan, meski dilaksanakan pagi hari sejak pukul 06.00 WIB, selepas subuh, masyarakat khususnya anak muda telah ramai memadati Desa Trusmi dan sekitarnya untuk menyaksikan tradisi tahunan tersebut.

Utamanya, jalan mulai Gapura Kawasan Sentra Batik Trusmi hingga ke kawasan Batik Trusmi. Para joki menjadikan jalan ini sebagai arena pacuan kuda Mereka memacu kuda hingga menunggu pelepasan atau pembukaan Memayu Buyut Trusmi.

Kuda ditampilkan sejak awal dimaksudkan untuk membuka jalan bagi peserta Ider- ideran, utamanya para abdi dalem Buyut Trusmi yang membawa welit.

Para abdi dalem ini memakai pakaian adat lengkap dengan gamelan dan tarian tradisional. Selain itu, ratusan para ‘dayak’ atau anak muda yang sengaja badanya dijadikan hitam juga ditampilkan untuk membuka jalan.

Arak-arakan ini juga menampilkan berbagai kebudayaan masyarakat sekitar berupa tari-tarian, hasil kerajinan batik, makanan khas Cirebon, aneka musik tradisional maupun modern serta hasil kreatifitas lainnya yang merupakan hasil swadaya masyarakat desa Trusmi dan sekitarnya.

Ider-ideran juga banyak menampilkan hal-hal menarik lainnya yang memberikan hiburan bagi banyak orang. Untuk masyarakat sekitar, bahkan sudah menyiapkan hasil kreatifitas semacam ogoh- ogoh sejak satu atau dua bulan sebelumnya.

Tepat pukul 06.00 WIB, Ider- ideran dimulai. Warga sudah memadati, utamanya jalur Pantura dari Lampu Merah Plered hingga belokan Panembahan.

Sebab, jalur ini merupakan jalur yang dilewati mulai dari Buyut Trusmi, Lampu Merah Plered- Jalur Pantura, Belokan Panembahan dan kembali lagi di Buyut Trusmi. Ider- ideran ini menjadi hiburan yang ditunggu- tunggu oleh masyarakat Cirebon dan sekitarnya.

Terakhir kali masyarakat tumpah ruah menyaksikan tradisi ini pada tahun 2019 lalu. Selepas itu, Covid-19 melanda dan membatasi aktifitas masyarakat sehingga tidak diperbolehkan membuat kerumunan.

Salah satu peserta Ider- ideran, Alimin, warga Perumahan Kaliwulu, sudah membuat ogoh- ogoh harimau sejak dua bulan yang lalu. Alimin dan teman sebayanya secara swadaya membuat replika harimau setiap harinya. Alimin mengaku senang membuatnya, sebab ia ingin ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.

“Bikinnya lumayan lama, setiap hari kita cicil bikinya. Mulai dari kerangka dari bambu, sampai finishingnya kurang lebih dua bulan,” kata Alimin.

Halimah, warga Kecamatan Plumbon mengaku sengaja datang untuk menyaksikan Ider- ideran. Halimah mengaku setiap tahunya selalu menyaksikan Ider- ideran.

Apalagi, dua tahun lamanya ia tidak bisa menyaksikan Ider- ideran Trusmi. Hal yang paling ditunggu Halimah ialah saat kuda berlarian di jalanan. Baginya, hal ini merupakan hal yang paling banyak ditunggu banyak orang.

“Rata- rata memang ingin menyaksikan balapan kudanya kalau Ider- ideran karena seru,” ujarnya.

sumber: Kabar Cirebon

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply