Masyarakat Cirebon memiliki pandangan hidup yang didasari dari implementasi adat istiadat yang didasarkan pada penjabaran hadis dan al-qur’an, di antara pandangan-pandangan hidup yang dipegang erat oleh masyarakat adat suku Cirebon yaitu “petatah-petitih” (pesan) dari Syekh Syarief Hidayatullah (Sunan GunungJati).

Khasanah budaya Cirebon terlihat khas dan unik, dalam berkebudayaan masyarakat Cirebon berlandaskan dari budaya yang berlatar belakang agama serta modern. Dari lingkungan masyarakat humanis, demokratis dan pluralis melahirkan  Kekhasan budaya Cirebon.

Khas Cirebon juga terwakilkan dari makanan dan jajanan di Cirebon, dan telah di kenal masyarakat luas. Ketika berkunjung ke Cirebon terasan kurang, jika tidak mencicipi kuliner Cirebonan. Beberapa makanan yang telah menjadi ikon Cirebon di antaranya Nasi Jamblang, Empal Gentong, Tahu Gejrot serta beberapa makanan yang menjadi idola ibu-ibu seperti mie kocok maupun docang.

Selain itu wisata religius di Cirebon cukup banyak tersebar diantaranya Makam Sunan Gunungjati, Masjid Agung Cipta Rasa. Khusus di bulan Maulid ada kegiatan yang rutin di laksanakan di Kesultanan Kanoman dengan puncak acaranya dengan digelarnya acara panjang jimat. Kegiatan menceritakan kisah Nabi Muhammad sejak sebelum lahir hingga kelahirannya dengan berbagai simbol. Penjabaran arti Panjang Jimat adalah piring bersar dari keramik yang di sebutkan orang Panjang, sedangkan Jimat adalah barang atau benda pusaka yang mempunyai momentum bagi seseorang. Dalam prosesi panjang jimat penuh dengan makna tersirat, pangeran patih ketika menuju langgar Alit tidak diperkanankan berbicara sebagai simbol istigomah. Perjalanan rombongan diawali dari depan pendopo keraton, kemudian melewati pintu kejaksan dan melewati Pintu Si Blawong yang dibuka hanya setahun sekali yaitu pada prosesi maulid saja dan berakhir di Masjid Agung Kanoman.