banner 728x90

Pasar Tegalgubug Nunggak Pajak hingga Ratusan Juta Rupiah

Pajak Bumi Bangunan (PBB) Pasar Tegalgubug, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon menunggak hingga ratusan juta rupiah. Dari mulai dibangunnya pasar sandang milik desa ini pada 1996, sampai sekarang banyak yang belum dibayarkan pajaknya ke pemerintah daerah (pemda) setempat.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, dari 1996 sampai sekarang, hanya beberapa tahun pasar sandang terbesar itu lunas pembayaran PBB-nya ke pemda. Tercatat di Dinas Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Cirebon, sekitar Rp 400 juta lebih utang pajak yang harus dibayarkan.

Tunggakan pajak ini membuat para pedagang setempat kecewa. Sebab, kios dan los yang mereka tempati ketika akan mengajukan permodalan ke bank dan lainnya terkendala administrasi SPPT yang belum displit dan utang pajak besar.

Atas dasar itu, pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Persatuan Pedagang Pasar Sandang (Persada) Tegalgubug, mendatangi kantor DPRD Kabupaten Cirebon, Selasa (14/6/2022). Mereka melakukan audiensi dengan perwakilan DPRD setempat, perwakilan aparat desa dan dinas terkait.

Dalam audiensi tersebut, Ketua Paguyuban Persada Tegalgubug, Kaeron menyampaikan, kedatangan pihaknya tak lain untuk audiensi agar pihak aparat desa yang memegang aset desa berupa pasar sandang Tegalgubug itu, segera menyelesaikan utang pajak yang menunggak puluhan tahun.

“Kita di sini kan ingin audiensi permasalahan pajak Pasar Tegalgubug. Jadi jangan melebar, kalau pemdes banyak pekerjaan lainnya jangan mengeluh ke kita, kalau enggak sanggup jadi aparat desa, mundur saja,” tegas Kaeron.

Ia menjelaskan, tentunya yang pedagang inginkan adalah hak-haknya terpenuhi. Dan sebenarnya para pedagang ingin membantu pemdes menyelesaikan permasalahan pajak yang selama ini belum juga dibayarkan.

“Dan kami para pedagang pun siap membantu. Bahkan, kami sudah rembukan siap patungan untuk menyelesaikan tunggakan pajaknya. Tapi setiap kali kami ingin bersinergi dengan pemdes tidak pernah ditanggapi,” sebutnya.

Ia menyebutkan, luasan Pasar Tegalgubug mencapai 12 hektare. Dan utang pajak yang menunggak sekitar Rp 280 juta. Jika urun rembuk antar pedagang, kena Rp 150 ribu per pedagang untuk melunasi tunggakan pajak tersebut, pedagang mengaku sudah siap.

“Pada 4 Februari 2022 kami mendatangi Bapenda waktu ada sosialisasi, hasilnya agar ada koordinasi dari paguyuban dengan pemdes dan kami sudah berusaha sinergi dan koordinasi, namun sampai sekarang belum ada tanggapan. Kami ingin permasalahan pasar ini benar benar tuntas. Kami ingin agar pemdes menyelesaikan permasalahan pajak ini,” ungkapnya

Sekdes Tegalgubug, Adi Syafrudin membantah pihaknya sulit untuk bersinergi dan enggan menyelesaikan permasalahan yang ada. Ia hanya menyebut butuh waktu dan saat ini masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

“Kami pemdes bukan tidak merespon, kami sedang mengkaji lebih dalam lagi. Karena kami baru lahir, baru 6 bulan menjabat. Banyak pekerjaan di desa seperti menyiapkan RPJMDes, Musdesus dan lainnya. Jadi kami bukan hanya memikirkan Pasar Tegalgubug saja,” kata Adi.

Ia kembali menegaskan dan meminta izin untuk mengkajinya. Sebab pihaknya juga tengah fokus dengan pembayaran PBB dan punya banyak utang PBB yang sangat besar. Bukan hanya tunggakan PBB di Pasar Tegalgubug, namun berjanji akan menyelesaikan tunggakan pajak tersebut tahun ini juga.

“Sebab peninggalan sebelumnya banyak warga kami membayar pajak dan punya bukti otentik tapi tidak dibayarkan ke Bapendanya. Kami mohon bersabarlah, dan kami pasti akan menyelesaikannya tahun ini juga. Walaupun ini juga tinggalan pemdes sebelumnya. Dan kenapa tidak menuntut saat pemdes sebelumnya yang sudah puluhan tahun?” tanyanya.

Sementara itu, anggota DPRD Kabupaten Cirebon, Mad Saleh yang menerima dan memimpin audiensi ini menyampaikan, membayar pajak sudah menjadi kewajiban dan harus dibayarkan tunggakan pajak tersebut ke pemda. Ia meminta agar pemdes punya solusi karena sebagian besar menjadi tanggung jawab desa.

“Pihak desa dan Paguyuban Persada harus duduk bersama dan harus saling menyadari. Karena sebenarnya persoalan ini simple, jangan ada ego-egoan,” kata Mad Saleh.

Ia menyebutkan, Pasar Tegalgubug meski berada di daerah tetapi terkenal hingga ke negara-negara lain di Asia. Namun kondisinya sangat semrawut dan perlu adanya pembenahan oleh pihak desa karena pasar ini statusnya pasar desa. “Saya berharap pihak desa menepati janjinya untuk menyelesaikan tunggakan pajak di tahun ini,” ungkap Mad Saleh.(Ismail)

Sumber : Kabar Cirebon

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply