banner 728x90

Kearifan Lokal di Balik Nadran

Terharu sekaligus bahagia, saat menyaksikan antusiasme warga Gebang dan sekitarnya menyambut Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Cirebon, H. Mustofa, SH yang hadir pada acara Nadran di Desa Gebang Mekar beberapa waktu lalu.  Dan sepengetahuan saya,   ini baru pertama kali terjadi; seorang politisi, benar-benar dihormati secara istimewa oleh warga nelayan di Desa kami.  Dengan kalimat lain, ketika seorang pejabat publik mencintai rakyatnya, maka rakyatnya pun akan mencintainya.

Realitas di atas, nampak berbanding lurus dengan esensi penyelenggaraan Nadran. Kita mengetahui, bahwa tradisi nadran memiliki makna yang begitu mendalam, yakni sebagai implementasi rasa syukur kepada Tuhan atas berbagai anugrah yang dilimpahkan-Nya. Dari mulai hasil laut yang melimpah ruah dan menghidupi keluarga para nelayan,  hingga anugrah berupa kesadaran untuk selalu menghormati  para leluhur.  Dengan kalimat lain, ketika kita bersyukur, maka Tuhan pun pasti akan menambahkan karunia-Nya. Dan jika kita menghargai dan menghormati jerih payah para leluhur, maka dengan sendirinya termasuk  masyarakat yang berperadaban.

Itulah sebenarnya maksud diselenggarakannya nadran. Di samping tentu saja, dalam rangka memelihara nilai-nilai luhur budaya dalam masyarakat, yang salah satunya adalah gotong royong dan kebersamaan.

Secara garis besar, tradisi nadran terbagi menjadi tiga fase. Fase pertama dimulai dengan acara Barikan yang dilaksanakan pada malam jumat.  Pada acara ini diisi oleh doa-doa yang dibacakan oleh tokoh sesepuh dan diamini oleh warga.

Kemudian fase kedua, adalah melarung sesajian  ke laut, yang diawali dengan iring-iringan warga yang dipimpin oleh para pemuka masyarakat. Sesajian terdiri dari berbagai  makanan dan kepala kerbau yang ditaruh di atas sebuah perahu kecil.

Penyelenggaraan nadran di Desa Gebang Mekar tahun ini, terasa lebih istimewa. Salah satunya karena Ketua DPC PDI Perjuangan yang juga Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, ikut serta bersama rombongan hingga ke lokasi tempat melarung. Hal ini juga menjadi nilai plus tersendiri bagi beliau; karena terjun langsung dan membaur dengan warga tanpa sekat-sekat  protokoler.

Rasa hormat warga, tergambar pada didaulatnya H. Mustofa menaiki seekor kuda jantan yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Warga pun nampak mengelu-elukan beliau; tak ubahnya kerinduan mereka akan seorang pemimpin yang benar mencintai rakyatnya dan rakyatpun mencintainya.

Ada aura metafisis ketika H. Mustofa menaiki kuda dan  mulai melangkah perlahan; suasana sejenak hening, seperti terhipnotis, menyaksikan seorang pemimpin yang sudah cukup lama mereka nanti-nantikan.  Membaca ekspresi wajah, nampaknya mereka seperti berharap, sosok seperti inilah yang kelak menjadi pemimpin; berwibawa, merakyat  dan penuh cinta kasih kepada sesama.

Di samping itu, iring-iringan pun tampak lebih semarak dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain dimeriahkan oleh banyak grup kesenian (drum band, burok dan lainnya), juga turut meramaikan buah karya anak-anak nelayan berupa aneka karya  seni rupa yang diarak oleh para pemuda nelayan.

Fase ketiga, pementasan wayang kulit yang diawali dengan penyampaian Kidung oleh Ki Dalang. Kidung yang berisikan berbagai petuah para leluhur, mengalun ritmis seolah diringi kekuatan supranatural yang menyebar  ke pelosok-pelosok permukiman warga. Kalau dicermati lebih mendalam, kandungan Kidung Ki Dalang memiliki makna yang luar biasa dahsyat; yakni, berisi ungkapan-ungkapan religius yang bermuara kepada rasa syukur kepada Tuhan, dan rasa terima  kasih kepada para leluhur.

Sementara untuk memberi hiburan kepada warga, panitia menyuguhkan berbagai pementasan kesenian, sebut saja beberapa diantaranya Masres, Dangdut, atau pun lainnya sesuai selera warga yang berangkutan.

Sebagai bentuk kepedulian kepada warga, Rumah Sakit Tanpa Kelas (RSTK) Mega Gotong Royong menggelar pengobatan gratis kepada ratusan warga nelayan.  Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka wujud kepedulian partai kepada  masyarakat.

Itulah nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam Nadran. Dan nampaknya, H. Mustofa pun amat memahami hal itu. Terbukti, beliau mengikuti acara dari awal hingga akhir dengan hikmat, dan warga terlihat bahagia dapat berdekatan secara langsung; dengan sosok pemimpin yang diyakin bakal menebar maslahat bagi umat. Wallohu’alam bishshawab… **

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.