banner 728x90

Belajar dari Konsistensi Bung Mustofa

21 Juli 206, Usianya kala itu belum genap 25 tahun. Tapi ia sudah menunjukkan kematangannya sebagai seorang calon pemimpin masa depan. Tak tanggung-tanggung, konstelasi politik yang amat terjal pasca  Pemilu Legislatif 1999, membuat politisi bernama lengkap H. Mustofa, SH ini   kehilangan haknya menjadi legislator periode 1999-2004.

Padahal, kiprahnya   pada Pemilu Legislatif hingga partainya mendominasi Parlemen dengan  18 kursi, di atas rata-rata rekan seperjuangannya sesama calon anggota legislatif ketika itu.  Tidak hanya waktu, tenaga, biaya dan totalitasnya dalam meraih suara, tetapi juga kerelaanya meninggalkan pekerjaannya sebagai Pimpinan Sub Distributor sebuah perusahaan minuman berskala nasional, yang kala itu tengah berada di puncak. Sejak saat itu, kiprah dan konsistensinya  di jagat politik Kabupaten Cirebon, mulai diperhitungkan, meski ia “dipaksa” harus bersabar oleh kenyataan; perjuangannya berbuah kepedihan yang dipendamnya dalam-dalam.

“Sedih dan prihatin, itu perasaan saya waktu itu. Tapi saya harus berjiwa besar, karena saya yakin, hal itu merupakan keberhasilan yang tertunda,” kenang Mustofa.

Saat itu, Mustofa hampir setiap saat meredam dan memberikan pengertian kepada para pendukung dan loyalisnya. Bukan pekerjaan mudah, karena jumlah mereka ribuan orang. Mereka kecewa dan akan menumpahkan kekecewaannya dengan aksi-aksi anarkhis. Meski beberapa kali aksi para pendukung Mustofa meletup, tetapi sedikit demi sedikit kharisma pemuda kelahiran 25 September 1974 itu, mampu mendinginkan suasana, sehingga aksi anarkhispun berakhir.

Kesabaran dan keistiqomahan  Mustofa membuahkan hasil. Tepatnya manakala KPU Daerah Kabupaten Cirebon, pada Pemilu Legislatif 2004, memutuskan dirinya syah menjadi anggota DPRD Kabupaten Cirebon Periode 2004-2009. Tetapi happy ending itu, melalui serentetan perjuangan yang melelahkan; menguras keringat dan menguji kesabaran.

Konsistensi putra bungsu tokoh legendaris kuliner khas Cirebon almarhum Bapak H.  Abdoel Rozaq ini,  memang telah teruji. Salah satu buktinya, ketika satu demi satu rekan-rekan  seperjuanganya tergerus oleh waktu dan dinamika politik yang pasang surut, karir politiknya justru makin berkibar.

Tidak tanggung-tanggung, kini politisi jebolan Fakultas Hukum Untag Cirebon & Alumni SMA Negeri 3 Kota Cirebon Angkatan Tahun 1993 ini menduduki dua posisi puncak; masing-masing sebagai Ketua DPRD Kabupaten  Cirebon dan pucuk pimpinan dilevel cabang di partai politik tempai ia berkiprah.

Perjalanan panjang yang dialami Ketua DPRD Kabupaten Cirebon ini, seyogyanya menjadi cermin sebuah perjuangan seorang negarawan; yang sukses meraih puncak dengan kerja keras, kesabaran, konsistensi, dan doa.. Dan kita, harus  belajar dari konsistensi Pak Ketua.. **

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.